THE MARIONETTE

YE JOON

지예준








Data Diri

Nama LengkapJi Yejoon (지예준)
Nama PanggilanYejoon, Joon, Jooni
Tempat, Tanggal LahirSeoul, 24 Desember 2006
KewarganegaraanKorea
PekerjaanSiswa Eunnoo School of Arts jurusan lukis
Klaim wajahJeno NCT

Kepribadian

Akibat selalu hidup dalam kontrol orang tuanya, pemuda ini kerap kesulitan untuk mengambil keputusan sendiri. Ia cenderung butuh validasi dari orang lain yang meyakinkan bahwa keputusannya sudah benar, kalau tidak maka ia akan berpikir bahwa langkahnya salah dan “putar balik” bila memungkinkan.Yejoon sangat tidak suka dengan ketidakpastian. Seorang perfeksionis—hampir akut—, karena hal-hal seperti ketidakpastian, kesalahan, bahkan kekurangan kecil, dapat membuatnya gelisah sepanjang hari.Terlepas dari itu, Yejoon adalah anak yang ramah untuk diajak berteman. Etikanya baik, kesopanannya terhadap orang yang lebih tua tidak perlu diragukan. Namun, sering membuat teman-teman dekatnya kesal karena wira Ji terlalu mudah merasa tidak enak hati. Ketika ada yang membutuhkan bantuan, terlepas dari apapun yang pernah mereka perbuat terhadapnya, Yejoon tetap akan membantu sebisa mungkin.Malaikat? Tidak juga. Yejoon juga bisa marah walakin seringkali lebih memilih untuk tidak marah. Jangan coba membuatnya marah, nanti menyesal.Ji Yejoon bukan orang yang banyak bicara—sebenarnya lebih ke malas bersuara, menjadikan dirinya sangat tertutup sekaligus pula seorang penyimpan rahasia yang baik. Daripada kalimat, Yejoon (belajar dari orang tuanya) cenderung merasa lebih nyaman memanfaatkan harta dan kekayaan untuk menahan orang-orang tetap di sisinya. Kalau kata orang, love languagenya adalah gift giving.


Trivia

  • Yejoon merasa namanya yang memiliki arti “tampan dan penuh bakat seni” kurang cocok dengan dirinya sendiri yang tidak memiliki bakat.

  • Karena banyaknya kritik tentang pemilihan warna pada gambarnya, ia mulai melukis hanya dengan warna hitam, putih, dan merah.

  • Tidak terlalu buruk dalam pelajaran umum, tapi selalu ada yang lebih baik dari ia.

  • Merupakan penggemar berat astronomi. Ia senang mempelajari semesta.

  • Memiliki kebiasaan melihat langit untuk menenangkan diri.

  • Ia senang berolahraga dan memiliki tubuh yang cukup atletis.








Latar Belakang

HADIAH DARI TUHAN DI MALAM NATAL, begitulah mereka menyebut bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Ji Yejoon. Kehadirannya menjadi berkat besar yang telah dinanti-nanti oleh kedua orang tua serta keluarga besar sang Ayah pun Ibu.Lahir sebagai pemegang sendok emas dari Ibu seorang pewaris kekayaan dan Ayah yang adalah pelukis ternama, masa kecil Yejoon tentu penuh dengan kebahagiaan. Sangking membahagiakannya, bila dipikirkan sekarang, mungkin Yejoon akan memilih kembali ke masa-masa itu dan tinggal selamanya di sana.Memiliki seorang Ayah yang adalah pelukis, tentu melukis bukanlah hal yang asing bagi si anak Adam. Sejak masih sangat belia, ia sudah dikenalkan pada cat dalam permainan sensorinya. Bahkan, ada sudut rumah khusus tempat memajang karya-karya “lukis” Yejoon kecil yang bahkan Yejoon sendiri tidak ingat kapan dibuatnya, kecuali ada keterangan tambahan pada lukisan abstrak tersebut.Julukan kecil tunggal keluarga Ji ini adalah “si usil” sebab ia kerap menyelinap ke studio lukis milik sang Ayah di rumah dan bermain dengan berbagai peralatan di sana. Tuan Ji akan menangkap basah putranya itu, lalu si kecil akan kabur bersembunyi di balik tubuh Nyonya Kim, sang Ibu, yang akan berusaha menghalangi putra mereka ditangkap sang Ayah. Kemudian, mereka tertawa bersama.Segala permintaan akan dituruti. Segala dari yang terbaik diberi padanya. Seperti itulah disayangi dan dihujani perhatian dari berbagai arah. Ayah, Ibu, bahkan Kakek dan Nenek dari kedua belah pihak. Dunia bagai terpusat padanya, hingga roda kehidupan mulai berputar.Anak laki-laki itu tidak ingat kapan pastinya, tetapi perlahan-lahan ia mulai kehilangan sosok kedua orang tua yang selalu disayanginya. Tidak ada lagi acara menonton kartun kesukaan Yejoon bersama di sore hari. Tidak ada lagi piknik bersama di akhir pekan. Tidak ada lagi perayaan ulang tahun bersama kedua orang tuanya. Tidak ada lagi makanan masakan Ibu. Tidak ada lagi tangan Ayah yang membantunya mengarahkan kuas. Kakek dan Nenek yang sudah makin berumur juga tidak punya banyak tenaga lagi untuk sering berkunjung dan meladeni cucu mereka.Keadaan makin parah selepas berpulangnya sang Kakek dari pihak Ibu. Ibu sibuk dengan bisnis warisan Kakek, Ayah pun semakin sibuk mengurus pameran sekaligus galeri pribadinya. Untuk sekadar mengobrol bertiga dengan kedua orang tua pun, Yejoon kesulitan mendapatkan waktu. Bila beruntung, mungkin Yejoon bisa mendapat lima belas menit untuk menyampaikan apa yang ingin dibicarakan, yang tentu saja tidak pernah cukup ‘tuk membahas persoalan serius. Tuan Ji dan Nyonya Kim hanya akan memberinya hadiah-hadiah mahal nan mewah yang sebetulnya tidak pernah ia minta sama sekali.Katakanlah, sejak berusia sepuluh tahun, Yejoon mulai tumbuh seorang diri ditemani para pelayan di kediaman mewah keluarga Ji— juga beberapa tutor lukis yang rutin datang bergantian ke rumahnya.Tutor lukis? Iya. Karena senang bermain cat dan berbagai alat lukis milik Ayahnya, sepertinya sepasang orang tua itu salah paham (atau memaksakan fakta) bahwa putra semata wayang mereka menyukai dan berbakat dalam lukis. Namun, apakah lahir dari seorang berbakat dapat serta merta membuatmu ikut berbakat? Tidak.Awalnya sugesti kedua orang tua terhadapnya memang bekerja. Yejoon yakin bahwa dirinya dapat mengikuti pun meneruskan jejak sang Ayah yang dikagumi. Akan tetapi, lambat laun anak lelaki tersebut merasa melukis adalah beban. Ia kehabisan ide untuk dituang ke dalam kanvas kendatipun tutornya berkata bahwa ide bisa datang dari mana saja. Berbagai gaya menggambar dipelajarinya, sama sekali tidak ada yang bisa membuatnya merasa senang apalagi nyaman.Kala ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri, datang pula tawa dari temannya yang melihat hasil karya Yejoon di pelajaran seni. “Hahaha, apa itu? Kau hanya bisa menggambar sebuah kursi kosong?” Lalu satu kelas menertawakan gambarnya.Satu kali masih bisa ia tanggapi dengan senyum sampai di pertemuan berikutnya datang lagi pedang lain, “Ji Yejoon, kau melukis apa? Gambarmu aneh sekali.” Lalu yang lain, “Oi Yejoon, kau buta warna? Mana ada langit warna hijau.” Yang lain lagi, “Kau yakin kau anaknya Ji Woong?” Dan lagi dan lagi.Iya, ya. Apa aku benar anak Ayah? Apa melukis benar untukku?Yejoon ciut, bergelut sendiri dengan banyak tanda tanya dalam pikiran. Pernah satu kali ia mencoba berdiskusi dengan Ayah dan Ibu, jawaban mereka hanya “tidak apa-apa, kau hanya sedang bosan. Nanti kau pasti dapat melukis dengan baik lagi.” Seminggu kemudian, datang seorang tutor lukis baru. Masalahnya, Yejoon tidak pernah merasa dirinya pernah melukis dengan baik.Menjelang tahun terakhirnya di SMP, saat Yejoon berniat mencari jati diri dan minat di bidang lain untuk digeluti, Ibunya justru memberi kabar bahwa Yejoon akan mengenyam pendidikan lanjutan di SMA seni, Eunnoo School of Arts, setelah lulus nanti. Ia sudah didaftarkan melalui kenalan sang Ayah, lengkap dengan portofolio palsu.Ah … apakah pendapatku memang tidak pernah penting, ya?Kenapa harus lukis? Kenapa harus begitu memaksa tanpa mau mendengarkan? Ia ‘kan … bukan boneka bertali?








Relasi

Ji Woong

Kim Yuna

Park Ahya